Senin, 22 Oktober 2018

Rindu

Hari itu, kali pertama aku bertemu; seseorang yang amat disegani banyak orang di daerah ku. Seseorang yang bila kita melihatnya tercermin tawadhu dari sinar wajahnya..





Sebelumnya, malam tadi Bapak menawariku untuk belajar mengaji pada seseorang yang akrab kami panggil Pak haji. Aku menyetujuinya, tapi mengkhawatirkan satu hal. Aku malu, baru memulai belajar mengaji di saat teman sebayaku sudah sangat fasih mengaji.  Bapak meminta dengan sangat agar Pak haji mau mengajariku mengaji. Di mintalah aku membacakan surat Al-Fatiha; surat dalam al-Qur’an yang setiap kali solat di lantunkan dengan merdu oleh banyak orang. Terkecuali aku, bacaan ku buruk, tak kenal panjang pendek dan hukum bacaannya. Tapi, dengan kepercayaan diri, ku lantunkan surat pembuka segala surat dalam al-Qur’an itu. Lalu menyelesaikannya dengan sekali tarikan nafas. Aku diminta membaca ulang surat tersebut sampai pada bacaan ke-12. Ku fikir, mungkin ada yang salah; lebih tepatnya bacaanku amat buruk, patah-patah dan tak merdu. Aku tak protes saat diminta ulang membacanya hingga berkali-kali. 

Lalu, semenjak hari itu, aku resmi menjadi muridnya. Ada semangat dalam hatiku yang bergemuruh riang karna Pak haji mau mengajariku. Aku tahu sudah terlambat sekali belajar mengaji pada usiaku yang menginjak 20 tahun ini, tapi Pak haji tak mempermasalahkan itu, -tak ada kata terlambat untuk belajar ilmu agama, Nak.

Hari-hari berlalu, aku banyak belajar hal baru. Tentang pengucapan huruf ‘Ha’ dan ‘Ain’ yang tepat, mengenal berbagai macam hukum tajwid dan mempraktekkannya. Lalu menyalin ulang di sebuah buku tulis catatanku. Menyimpulkan setiap ayat yang sudah diterangkan dengan sangat jelas oleh Pak haji. 

Kami mengaji tepat di pelataran rumah Pak haji. Disebuah bangku kayu. Di depannya ada sebuah pohon jambu yang apa bila bunganya mekar dan berguguran akan membuat indah pekarangan rumah Pak haji. Bunga-bunga itu gugur seperti pelangi yang menghiasi hamparan langit luas. Indah sekali. Warnanya merah pekat, terkadang merah muda juga ungu. Aduhai, betapa damainya mengaji di sana.
Tiga tahun berlalu, setahun terakhir kondisi kesehatan Pak haji melemah. Pak haji lebih sering sakit dan pada akhirnya dokter menyarankan untuk cuci darah. Aku tahu hal itu buruk. Aku tidak menyetujui ide itu, tapi Pak haji hanya tersenyum. –Ini jalan ikhtiar, Nak. Dokter menyarankan dengan pertimbangannya akan kondisiku.

Hari itu, menjadi permulaan setiap minggu Pak haji harus cuci darah. Sungguh, belum pernah aku melihat selain Pak haji. Dikala tubuhnya yag semakin melemah, Pak haji semakin semangat mengajari ku mengaji. Pernah suatu saat, malam itu Pak haji baru keluar dari rumah sakit, dan meminta untuk tetap mengajariku mengaji keesokan harinya. Aku yang mengetahuinya langsung bergegas menuju kediaman Pak haji. Dengan nafas tersengal, aku memulai bacaanku. Masih patah-patah satu dua ayat. Masih sama seperti pertama kali aku ke sini. Tapi aku sudah menghatamkan bacaan al-Qur’an ku sebanyak tiga kali, 1 kali dalam tahun pertama, dua kali dalam dua tahun terakhir. Bagiku, itu adalah kemajuan yang sangat pesat meski bacaanku belum sempurna.

-Nak, tidak ada kata istirahat atau berhenti dalam belajar, terlebih mengaji. Kau mesti belajar, hingga nafasmu berhenti, hingga darah tak lagi mengalir dalam tubuhmu, hingga Allah memanggilmu dengan kerinduan.

Dan disaat aku sedang asyik meneguk nikmatnya belajar mengaji, meng-eja setiap huruf hijaiyah dengan hukum tajwid. Allah memanggil Pak haji dengan sangat indah, dengan kerinduan yang paling dalam. Hari itu, Jumat pukul 3 dini hari, tanggal 7 juli 2017, sekujur tubuh ku gemetar, kabar apa yang barusan ku dengar? Orang yang paling aku hormati setelah orang tuaku, sudah terbujur kaku. Sudah tidak ada lagi yang memarahi ku ketika salah membaca huruf  ‘Ha’ dan ‘Ain’, tidak ada lagi yang menawariku makan singkong goreng dan membawanya pulang, tidak ada lagi nasihat-nasihat lembutnya. Ya Rabbi....

Separuh dari hatiku hancur, seperti di siram air panas yang baru mendidih. Kain putih itu, ku jahit dengan benang dan perlahan. Kain putih yang akan membalut tubuh Pak haji, harum wanginya. 

Rabbi...
Seperti ini kah rasanya? Menjahit langsung kain kafan yang akan menjadi pelindung tubuh Pak haji yang terakhir? Seperti inikah rasanya kehilangan untuk selamanya? Pada siapa lagi aku belajar mengaji? Bertanya persoalan duniawi? Menyapu pekarangan rumahnya sebelum mengaji dimulai. Memakan singkong goreng bersama. Dan di marahi ketika bacaan ku salah?
Ya Rabbi... inikah kerinduan paling dalam saat Pak haji berpulang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu

Hari itu, kali pertama aku bertemu; seseorang yang amat disegani banyak orang di daerah ku. Seseorang yang bila kita melihatnya tercermin ta...