Rabu, 13 Juni 2018

Perihal hati dan tali yang kusut.


Barangkali aku adalah titik yang menjenuhkan, bukan penggenap ganjilmu, bukan pula pelipur laramu. Atau seseorang yang akan menghapus segala gundahmu. Perkara pola pikir kita yang berbeda adalah tentang saling menghargai, atau lebih dari sekedar itu. Hingga beriringan bukanlah jalan keluarnya.


Meski kita pernah saling membahagiakan, pernah mencipta mimpi begitu bahagia, rupanya ada hal lain yang telah dipersiapkanNya.
Kau pernah ada di hatiku, sebagai penetap paling apik. Aku rasa, aku adalah rumahmu, tempat kau pulang dan tak pernah beranjak pergi.
Tapi aku lupa, rumah seharusnya di rawat. Bukan tuk dibiarkan begitu saja. Kau melewatkan bagian itu, menjaga rumah agar tetap hangat dan nyaman. Maka ku biarkan kau pergi. Meski kau berbalik, aku takkan berlari.

Kemudian hatiku berantakan, seperti kapal pecah. Seperti rumah yang sudah ditinggal bertahun oleh pemilikinya. Seperti tali yang kusut.
Aku mungkin sangat egois, karna terlalu memintamu padaNya. Kini, aku takkan meminta lagi. Sebab yang ditakdirkan untuk pergi, pada akhirnya, sekuat apapun aku menahannya, bagaimanapun caranya, ia akan tetap pergi.

Biar ku rapihkan setiap sudut di hatiku yang berantakan. Hingga tak ada lagi yang tersisa. Membuang atau membiarkannya adalah hakku bukan?
Kau adalah fajar yang berembun, sedang aku asyik di hangatkan senja. Bagaimana keduanya bisa bersama?
Pergilah. Aku tak ingin menahan. Meski aku bisa, hatiku tak lagi sama.

Adakalanya, apa-apa yang kita inginkan begitu dalam akan memberi luka jika menaruh “harapan” yang lebih di sana. Maka luka adalah pembelajaran.
Barangkali, berjalan lebih jauh adalah pilihan yang tepat saat ini. Bahwa hidup tak melulu tentang mengobati luka. Jadi, biarkan waktu yang berperan penting dalam menyembuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu

Hari itu, kali pertama aku bertemu; seseorang yang amat disegani banyak orang di daerah ku. Seseorang yang bila kita melihatnya tercermin ta...