Rabu, 21 Maret 2018

antara stasiun dan kenangan



            Aku baru saja datang lagi ke kota ini. Di sini semua serba asri. Orang-orang di sini pekerja kebun dan ladang. Terkadang aku sengaja duduk di tepian anak sungai hanya untuk memperhatikan mereka dari kejauhan. Memperhatikan bagaimana bulir keringat mereka mengalir deras. Bulir-bulir itu bahkan ada yang sebesar biji jagung. Dan kemudian membanjiri baju lusuh mereka. Betapa pekerja keras orang-orang itu.
 
google

      Ayahku pun dahulu seorang pekerja kebun yang giat. Bila sang raja siang tengah berada di atas tahtanya Ayahku bertarung dengan sinarnya, mencangkul tanah lalu memanen buah-buahan yang telah matang. Dan saat itu Ibuku datang berlarian kecil di pinggiran sawah membawa bekal siang. Dua buah tempe goreng dan sambal yang menggugah selera makan untuk sekedar mengganjal perut Ayah. Aku tertidur pulas dalam kain gendongan Ibu kala itu. Sesederhana itulah kebahagiaan kami. 

            Kata Ibu, jika aku mulai rewel dan menangis Ibu cukup menepuk-nepuk kaki kecil ku dan memberi asi, setelahnya aku kembali tertidur pulas. Sering aku melihat mata Ibu mulai berkaca-kaca kala kenangan itu kembali ia ceritakan padaku di setiap malam. Setiap malam menjelang aku tidur ibu menceritakan kenangan yang sama. Hingga aku paham kerinduan seperti apa yang membelenggu hatinya. Kadang ingin rasanya ia berlari sekuat tenaga untuk dapat terlepas dari kenangan yang pernah membuatnya terbang tinggi dan seketika dihempaskan angin. Rasanya begitu sakit, ucap goresan luka di mata Ibu.

“Aku rindu.. Aku rindu kamu…”

            Tapi kini aku takkan melihat goresan luka di mata Ibu lagi. Atau mendengar ibu menceritakan kenangan yang membuat mataya berkaca-kaca. Satu hal yang aku ingat dari Ayah, ia menyukai senyum Ibu yang merupa bunga mawar merah yang mekar di kebun mereka. Kebun mawar yang setiap pagi Ibu siram agar tak layu.

            Setiap pagi ketika semua orang sibuk menyiapkan paginya agar berjalan lancar, Ibu sibuk menata kebun kecil kami di halaman depan rumah. Mawar merah. Ibu menata kebun itu dengan penuh cinta, bahkan aku tak pernah melihat kesedihan kala melihatnya menata kebun mawar itu. Kini, Ibu sedang berbahagia karena terlepas dari kebelengguan yang menggores hatinya sebab dipertemukan dengan Ayah dalam Keharibaan Sang Pencipta. Aku melepasnya tanpa tangis kehilangan karna aku tahu selama ini Ibulah yang amat kehilangan Ayah. Dan, aku bohong. Aku menangis, aku kehilangan Ibu, amat teramat kehilangannya.

            Tiga minggu yang lalu aku merasakan sakit yang selama ini Ibu rasakan sepeninggal Ayah. Tangis yang memecah kesunyian malam karena kenangan selalu terputar begitu saja dalam benak tentangnya, aku pun begitu. Aku kehilangan sosok Ibu. Hampir gila rasanya melihat sosok yang selama ini merawatku telah pergi.

            Mengantarkan jenazahnya yang seharum kasturi itu pada liang lahat saja tubuhku tertatih. Ingin rasanya membuka tiap ikatan kain putih itu dari tubuhnya dan memaksanya untuk bangun dan menceritakan kenangannya lagi menjelang tidurku. Dan aku tahu, saat itu terjadi aku sudah menjadi sangat gila.

            Aku rindu mata sapi gosong dengan taburan kecap yang melimpah buatanmu itu. Aku rindu tangan halusmu membelai dan merapihkan anak rambutku yang berantakan tersapu angin. Aku rindu kala kita mencipta tawa sebab kebiasaan burukku mendengkur lalu aku terjaga karna tawamu yang pecah.

“Bu.. aku rindu.. aku rindu Ibu..”

            Pagi ini aku bergegas pergi ke stasiun. aku akan pergi, menjejaki kenangan yang selalu Ibu ceritakan kala kantuk menghampiri.

“Ke kotamu Bu, kan ku jejaki setiap kebahagiaan yang pernah kau cipta bersama ia yang kau cinta, Ayahku..”

            Perasaan seperti ini tak pernah menghampiriku sebelumnya. Jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya lalu gigi-gigiku yang menggeretak. Tangisku hampir pecah tatkala kereta yang ku taiki akan segera berangkat. Tak ada yang melepas kepergianku di stasiun, berbeda dengan Ayah kala itu. Kepergian Ayah dilepas tangis kecil Nenek. Melepas anak bungsunya menjemput cintanya di kota yang biasa orang-orang sebut sebagai kota kembang.

            Jadi seperti ini perasaan Ayah kala itu. “Bu, tunggu aku dalam setiap bingkai kenangan yang kau ceritakan tanpa lelah padaku itu. Kenangan saat Ayah menjemput cintanya..”

            Selang beberapa jam setelah keberangkatan dari stasiun, aku sampai di stasiun kereta api Bandung, tempat di mana Ibu menunggu Ayah dengan gempa hebat dikedua kakinya. Tempat dimana semua kenangan akan tercipta saat itu.

            Kakinya yang besar menapaki lantai stasiun satu persatu. Matanya mencari sosok yang tengah menunggu lama di sini. Ia mematung cemas. -Akhirnya jari-jari kita akan saling meremas mencipta kehangatan kala hujan lebat datang-

            “Sudah lama sekali”. Suara itu terdengar lirih.

            Matanya masih sebulat biji-biji kelereng. Senyumnya masih semanis semangka di kala musim kemarau. Lalu pundaknya yang lebar itu pernah menjadi sandaranku ketika lelah menghampiri.

            “Sudah lama sekali, Nay”. Ia melanjutkannya.. “rupanya kau masih setia menantiku disini? Lihat, hidungmu memerah serupa jambu air. Kau menangis? ”
            “Aku rindu kamu Mas.” Lalu tangisnya pecah dalam pelukan.

            Di sini, ditempat kedua kalinya Ayah dan Ibu bertemu. Kala hidung Ibu yang memerah menahan tangis kerinduan akan sosoknya. Stasiun yang katanya menjadi saksi bisu betapa rindunya mereka saat itu..

            “Segar”. Ucapku sambil menghela nafas panjang-panjang. Ini pagi pertamaku dikota Ibu. Kota kelahiranku. Aku tak akan pernah mendapatkan udara sebersih ini di Jakarta. Di sana aku hanya akan mendapati ribuan kendaraan berlalu-lalang di jalanan besar.

            Pagi ini aku duduk di depan rumah yang dulu pernah kami tinggali bersama. Rumah yang lama sekali tak kukunjungi. Sembari menyeruput kopi hitam hangat buatan Mak Inun, kenangan itu mulai terputar lagi.

            Aku menikmati sekali kopi panas ini. Aromanya yang khas membuatku tak ingin menghabiskannya sekaligus.

            “Aku menyukai aroma kopi buatanmu, Nay. Setiap kali menciumnya selalu saja senyummu yang terbayang. Dan kau tahu? Aku tak ingin terburu-buru tuk menghabiskannya aku ingin menikmatinya perlahan saja.”
             “Tiap pagi, ayahmu selalu mengatakan hal tersebut berulang-ulang. Hingga afal betul emak mu ini neng. Itu sebabnya, Ibumu senang membuat kopi.” Tutur Mak Inun sambil menatap kearahku. Aku menyukai tatapannya, tajam . Persis milik Ibuku.

           Ada beberapa bagian wajah Mak Inun yang mirip Ibu. Bagaimana tidak, sosok yang saat ini tengah asik menikmati kopinya adalah nenekku. Lesung pipi disebelah kanan pipinya persis milik ibu. Tahi lalat di bawah bibirnya pun persis punyaku dan Ibu.

           “’Azis punya banyak sekali cara untuk membuat Naya tesenyum. Entah gelak tawanya sendiri ataupun candaan hangat mereka. Pantas sajalah Ibumu amat teramat mencintai Azis. Ayahmu. Hingga pada akhirnya kau lahir dan melengkapi kebahagiaan keluarga ini. Dulu sewaktu kaki kecilmu itu belajar berjalan, kau sering terjatuh dan bersikukuh untuk bangun lagi. Dengan sejuta rasa ingin tahumu itu Azis  dan Naya selalu kewalahan menghadapimu. Tapi tak pernah emak lihat lelah diwajah mereka.” Mak Inun menghentikan pembicaraan dan beranjak dari kursi anyaman yang dibuat ayah dulu.

           Aku sengaja duduk di tepian anak sungai lagi pagi ini hanya untuk memperhatikan para pekerja kebun dan ladang dari kejauhan. Menikmati kenangan yang terputar lagi.
           
 “Bu, aku sampai dikotamu. Kota yang katamu adalah kenangan. Aku pun berhasil menaburkan mawar-mawar itu di atas pusara Ayah. Wanginya harum, seharum kenanganmu. Bukankah begitu, yah?” Ucapku perlahan sambil beranjak meninggalkan pusara ayah..

2 komentar:

  1. Keren, ini fiksi atau nyata? gak begitu penting, yg jelas air mata kok netes ya bacanya. Keren tulisannya.

    BalasHapus

Rindu

Hari itu, kali pertama aku bertemu; seseorang yang amat disegani banyak orang di daerah ku. Seseorang yang bila kita melihatnya tercermin ta...