Senin, 03 Juli 2017

Surat untuk sahabat




google

Ga, rasanya baru saja kemarin kau peluk erat tubuhku. Menghapus lara dengan sentuhan lembut tangan seorang sahabat. Kita menari, tertawa bahkan kita saling berbagi beban di pundak  bersama. Tapi itu dulu, Ga. 
 Ga, kamu ingat tentang hujan yang menghantarkan harap kita siang itu? Tak apa jika kau sudah melupakannya. Itu hal yang wajar. Tapi aku enggak Ga. Rasanya terlalu cepat untuk terlupakan lalu aku jadikan kenangan itu sebagai sampah.
Ga, kabar mu gimana? Jangan suka cengeng lagi ya Ga. Aku disini mencoba baik Ga. Mencoba menganggap kenangan kita tak pernah terjadi. Tapi rasanya sulit Ga. Pernah sekali aku coba tapi gagal. Kita acap kali berpapasan, tapi kenapa Ga? Kau seperti menganggap aku benar-benar tak ada. Padahal jarak kita amat sangat dekat. Rasanya perih sekali Ga.

Ga, dulu kita pernah saling janji untuk tetap bersahabat. Aku adik perempuanmu. Sedangkan kau jadi kakak perempuanku. Dan sayangnya angan itu hanya bertahan sementara Ga. Awalnya aku mengira kau hanya sedikit jenuh dengan persahabatan ini. Awalnya ku kira kau hanya ingin merasakan kasih teman yang berbeda. Tapi itu hanya perkiraanku saja. Kau di buat larut dalam persahabatan lain. kau melupakanku Ga. Melupakan adik perempuanmu ini.

Ga, aku sudah berhasil menghapus kenangan kita. Tapi jujur Ga, butuh waktu lama untuk itu. Mungkin aku egois, mengharap kau akan kembali dan merangkul kembali pundakku yang makin rapuh. Lalu kamu mencoba merekatkannya kembali. Tapi rupanya aku terlalu mengkhayal tinggi Ga. Lucu ya?

Ga, aku sering bermimpi tentangmu disetiap lelapku. Kau terlihat sangat cantik disana Ga. Masih selembut dulu. Tapi ketika aku bangun, kenyataan ternyata lebih pahit Ga. Kita sudah semakin jauh. Kau mungkin sudah tak ingat lagi dengan adik perempuanmu ini bukan? Tak apa Ga. 

Ga, aku hanya berharap kau mau menoleh kearahku meski sepersekian detik saja. Aku kangen kamu Ga. Kangen banget.
Ga, aku sering banget sekedar melihat photo-photo kita dulu. Semua masih tersimpan apik disini. Di photo itu kita terlihat saling menyayangi layaknya adik dan kakak. Tapi itu hanya sekedar photo Ga.

Ga, hatiku rasanya seperti tercabik-cabik saat melihat kau tertawa dengan mereka. Rasanya sakit sekali menyaksikan klise hidupmu yag baru. Ga, disini pun aku mencoba memulai klise hidupku yang baru, seperti kamu memulainya dengan cepat.

Ga, aku terlihat konyol sekali ketika menangisi kenangan kita. Menangisi perubahanmu yang secepat pesawat jet itu. Aku sudah mencoba lagi untuk tidak menangis Ga. Tapi, semakin lama aku tahan, rasanya semakin sesak Ga. Sesak sekali.
Ga, ini mungkin akan menjadi surat dari ku yang pertama dan terakhir. Karna setelah ini aku ‘kan mencoba mengganggapmu tak ada, seperti kau menganggapku sebagai patung pagi itu. Berjalan lurus begitu saja melewatiku. Padahal aku berharap jus yang kau buat itu akan kau tawarkan padaku Ga. Tapi ternyata ada temanmu dibelakangku. Ah, aku yang terlalu pede, terlalu berharap. Tapi rasanya sakit sekali Ga. Aku pamit ya, jaga kesehatanmu. Ingat Ga, aku gak akan mau lupain kenangan kita. Meski suatu saat nanti kita akan berbicara layaknya sahabat lama pasti rasanya canggung sekali Ga. Dan jarak menjadi penghalang kita.

Dari Aku, adik perempuanmu.
Annisa elvas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu

Hari itu, kali pertama aku bertemu; seseorang yang amat disegani banyak orang di daerah ku. Seseorang yang bila kita melihatnya tercermin ta...