Senin, 03 Juli 2017

sebuah surat dan harapan



google


Mas, sebelumnya maaf. Maaf karna aku tlah lancang menyukaimu.  Rasanya bodoh. Sebab aku terlihat sangat kikuk sore itu. Seharusnya aku lebih bisa mengontrol detakannya. Aku tahu, kau juga merasakan hal yang sama. Benarkan? Aku harap begitu..

Mas, minggu lalu pertemuan kita yang kedua kalinya bukan? Kau terlihat sangat menawan kala itu. Sedang aku lusuh lagi kikuk. Senyum yang mengembang. Dan bening matamu lah yang membuatku tenggelam didalamnya. Aku tahu, aku sangat egois. Berharap kedua ekor matamu milikku disetiap detik pejamannya

Mas, salahkah jika aku ingin menjadi penetap dibening matamu. Lalu larut diantara rasa cemasmu. Aku rasa banyak wanita Soleha yang ingin menjadi penetapnya. Menjadi pemiliknya yang halal.

Mas, entah bagaimana. Aku begitu yakin kau pun larut diantara debaran kita saat itu. Tenggelam dalam perasaan masing-masing. tapi kenapa aku? Wanita biasa yang tak pernah ingat akan kematian dan Tuhannya. Sedangkan aku tahu, rasa yang kita nikmati adalah anugerah-Nya. Kenapa aku? Sedangkan aku tak pandai bersolek atau bahkan berlenggak-lenggok di karpet merahmu. 

Mas, kau terlihat sangat tampan. Berbalut koko hijau tosca. Dan sebuah peci putih. Milik Kamu.
Mas, surat ini ku tulis dengan sangat kikuk. Takut-takut kau tak menyukainya lalu membenciku. Aku takut jika kedua bening matamu yang sangat teduh itu tak lagi memandangku dengan penuh cemas. Takut tlah dimiliki orang lain. 

Mas, aku memang sangat berharap pertemuan itu datang;Lagi. Tapi rasanya memalukan jika kecanggungan nampak jelas diwajahku. Aku harap kau tak pernah menganggapku aneh.

Mas, sudah sampai sini dulu yah. Aku takut jika terlalu dalam, ini akan menjadi tumpukan dosa. Untukmu dan untukku. Semoga kau tetap apik dan menawan. Jaga kesehatanmu ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu

Hari itu, kali pertama aku bertemu; seseorang yang amat disegani banyak orang di daerah ku. Seseorang yang bila kita melihatnya tercermin ta...