Senin, 03 Juli 2017

Hijrah


google


“ciye sekarang jilbabnya di double”…….
“loh kok makin hari makin panjang banget jilbabnya”…………..
“ikut organisasi apa sampe berubah drastis gini”……
 Terkadang tak sedikit orang yang melihat dengan tatapan sinis ke arah saya.  Berbisik-bisik dan membicarakan. Dan saya merasa seperti terasingkan. Tapi tahukah kalian? Saya merasa sangat bahagia terasingkan seperti ini, sebab Rosulullah pernah berkata “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu”.

Dulu, saya merasa bangga dengan pakaian yang ketat, jilbab yang terkadang transparan dan melihatkan helai-helai rambut saya, berlenggak-lenggok dengan jeans yang membentuk bagian tubuh yang terbalut. Lisan yang tak pernah saya jaga, atau akhlak yang tak pernah saya bina muruahnya. Saya pernah ada di fase-fase itu. Allah seakan jauh sekali dari jiwa ini. Al-Qur’an yang tak pernah tersentuh dan dzikir yang tak pernah terlantunkan. Sungguh, jika mengingatnya hati terasa pedih dan ingin sekali rasanya mengulang waktu dan memperbaiki yang sudah berlalu. Tapi saya sadar, bahwa waktu yang telah berlalu tak bisa diulang. Maka merugilah saya waktu itu, sebab melalaikan waktu yang telah Allah beri. Bagaimana jika saat itu Izrail datang menyapa, lalu raga ini terpisah dari ruhnya. Bagaimana amalan yang selama ini saya lakukan? Bagaimana dengan pertanggung jawaban atas dosa-dosa yang tak terhitung banyaknya ini. Astagfirullah.. 

Saya lebih menyukai tontonan yang merusak akhlak atau sekedar berangan-angan menjadi peran utama dalam suatu cerita ftv. Lalu saya melupakan bahwa skenario hidup saya lebih baik. Tak pernah mensyukuri segala nikmat yang telah saya dapatkan. Jika hendak tidur, saya lebih menyukai mendengarkan lagu-lagu berbahasa asing atau lagu-lagu bertemakan cinta ketimbang mengambil wudhu dan bertilawah. Jika malam saya lebih menyukai bergadang hingga larut dan tak pernah mengerjakan solat malam. Dan ketika terjaga di pagi hari saya hanya sibuk mengecek ponsel dan segala social media yang saya miliki tanpa pernah bersyukur atas kesempatan hidup lagi di pagi hari.

Jika adzan berkumandang saya seakan tuli dan tak menghiraukan panggilan itu. Dan asik menggunjingkan hal-hal kecil di sekitar saya. Hingga akhirnya melewatkan waktu solat. Atau terkadang solat saya terasa sangat terburu-buru seperti sedang mengejar sesuatu. Tak pernah ada dzikir setelahnya atau solat sunah yang saya kerjakan. Hidup saya menjadi sangat jauh dari Rahmat Allah.

Hingga pada awal bulan April lalu, saya sadar akan kehampaan dan kesia-siaan yang telah saya lakukan selama ini. Dan segala macam bentuk teguran dari Allah yang saya rasakan begitu nyata. Yang membuat saya sadar. Saya pernah mendapat sebuah pesan singkat dari seorang teman yang mengatakan.. “Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’d:11)”. Rasanya bergetar hati ini.

Dan yang membuat hati ini lebih bergetar adalah sebuah pesan singkat di suatu gambar yang bersumber dari pemilik akun @pedulijilbab, yang isinya berkata “Ayah, Ibu.. Jilbab syar’i-ku bukan berarti teroris, fanatic, ekstrimis. Aku hanya ingin menjadi INVESTASI AKHIRAT untukmu dan menjadi anak shalih nan berbakti”. Sungguh, pesan ini sangat mengkuatkan saya untuk berhijrah dan berusaha memperbaiki diri menuju Ridha-Nya. Dan meluruskan niat berjilbab hanya karena Allah. Hingga pada akhirnya hidayah itu datang. 

Saya menyesal, kenapa tidak sejak dulu saja memilih hijrah. Tetapi setidaknya Allah telah menunjukkannya saat ini. Tulisan ini saya buat bukan untuk menasehati atau mencoba untuk menginspirasi banyak orang. Saya hanya ingin bercerita:-)
Semoga Allah selalu senantiasa memberikan Rahmat-Nya untuk kita semua^^ Senang akhirnya bisa menulis lagi..

           

           

1 komentar:

  1. Subhanallah hebat ukhti, cerita ini sangat menginspirasi doakan saya sesegera mungkin berada di jalan yg sama yg sedang ukhti tapaki dan istiqamahkan saat ini �� #amin

    BalasHapus

Rindu

Hari itu, kali pertama aku bertemu; seseorang yang amat disegani banyak orang di daerah ku. Seseorang yang bila kita melihatnya tercermin ta...